Senin, 24 Oktober 2011

Kalau kita bicara soal resep Pecel Lele atau Steak atau Burger maka sudah tepat jika kita menggunakan logika meski energi rohani kita juga penting ketika kita create kuliner tersebut. Tetapi ketika kita bicara soal Kedahsyatan Tuhan Yang Maha Kuasa maka hati kita yang harus dikedepankan, sedangkan logika mengikuti dibelakang hati kita. Jangan salah sangka, jangan mengira hati kita kalah cerdas dengan logika kita karena hati tersebut bisa 10 atau bangkan seribu langkah didepan logika kita.

JAWA dari kata ajawam yang berarti JUJUR dan RENDAH HATI. Kebetulan saya dilahirkan dari suku jawa ( ini bukan pilihan saya ). Orang jawa mengenal istilah "laku". Dalam perspektif kultural maka nglakoni itu merupakan syarat untuk menggapai sesuatu. Ketika Nabi Ibrahim mencari siapa Tuhannya maka beliau melakukan "research" atau riset, tidak hanya diskusi dengan Plato, Socrates, Jean Paul Sartre, Kant dll, beliau terjun langsung, merasakan, menghayati sendiri pencariannya tersebut dengan penuh kesadaran. Saya hanya ingin berbagi saja, kebetulan sudah dari sononya, sejak muda belia saya merupakan praktisi kegiatan rohani, saya belajar sesuatu yang seharusnya merupakan pelajaran bagi orang-orang yang sudah dewasa atau tua, saya rasakan sendiri ujian-ujian hidup dengan senang, dan sejauh yang saya tahu semua ujian hidup pernah saya alami dan saya lalui dengan baik. Jika anda mencari alamat Tuhan maka anda tidak akan menemukannya jika anda hanya berdiskusi dengan Jean Paul Sartre meskipun dia pernah berkata bahwa " Manusia tidak lain bagaimana dia menjadikan dirinya sendiri.", anda bisa menggunakan pendapat Sartre tersebut untuk melakukan Laku pencarian dengan tindakan proaktif berkomunikasi langsung kepadaNya dilandasi dengan niat tulus ikhlas dan cara-cara yang baik dan benar semoga anda akan menemukannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar